Aremania sedang diuji
Kembalilah ke semangat mendiang Acub Zainal, pendiri klub Arema
Malang. Ketika saya bertemu beliau di Jakarta terakhir kali sekitar
sekitar November 1996 di rumahnya di Cilandak bersama Sam Lucky Adrianda
Zainal (Ikul) dalam rangka "mengemis" mencari ke Sentul, kantornya
Tinton Suprapto dan Haryono Isman, beliau berpesan "You Arek Malang, PS Arema Malang itu kita dirikan dengan susah payah untuk you Arek Malang supaya bersatu".
Pesan
ini sangat mendalam artinya, apa pun masalah yang sedang menimpa
harusnya mampu diselesaikan dengan bijak, cara satria dan elegan, sopan
santun dan etika Arema. Menjadi Arema itu takdir, sedangkan menjadi Aremania itu panggilan jiwa.
Hati ini teriris ketika Arema
Malang menjadi begitu besar dan dicintai sebagian besar rakyat bola di
Indonesia bahkan beberapa di Asia.Mereka terlena dengan "kitab suci
ajaran" Sang Jenderal pendiri Arema
Malang. Ada dalam pasal tersebut supaya Arek Malang bersatu. Seandainya
Sang Jenderal tahu bahwa akibatnya akan seperti ini beliau pasti
menangis. Sudahlah, Arema harus berfikir jauh ke depan untuk prestasi level tidak hanya Indonesia tapi Asia.
Klub sebesar dan se-edan Arema
harusnya juara di Indonesia, menurut saya sudah sepantasnya, lebih dari
itu minimal masuk 8 besar AFC seperti tahun-tahun sebelumnya. Juara
Liga itu mutlak namun keharusan melangkah ke Asia menunjukkan komitmen
manajement sangat positif untuk jangka panjang ke Arema.
Yang lebih penting dipahami bagi arek-arek Malang menjadi Arema itu sebuah takdir yang tidak bisa dihindari bagi arek-arek Malang seperti kita yang lahir di Malang. Menjadi Aremania itu panggilan jiwa bagi siapa pun yang mencintai Arema baik di Malang maupun di luar kota Malang. Jadi, tidak bisa dipaksakan, harus dengan panggilan hati nurani masing-masing.
Beda pendapat di antara Aremania yang pro dan kontra dengan managemen PS Arema merupakan hal yang wajar dan dinamis. Di Malang kalau adem ayem ya bukan Arema namanya. Ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun. Saya tidak kaget dan gusar ketika terjadi polemik tentang; dualisme Arema FC, lapangan Kanjuruan/Gajayana, harga tiket, banyak copet, dan terakhir tentang warna jersey, logo, dan nama Arema.
Beda
pendapat wajar, namun harus proporsional dan profesional menyikapinya,
dengan kepala dingin dan hati yang bersih tanpa ada penekanan dari satu
dengan yang lain. Pemberitaan di media sosial sering menumbulkan
persepsi, maka hindarilah menulis tentang perbedaan pendapat sebab bisa
salah dalam menafsirkan. Sebaiknya selalu tulis hal-hal yang baik
meskipun kecil dan kubur hal-hal yang buruk, tinggalkan dendam dan
kebencian meskipun besar salahnya.
Di sini kita tunjukan jiwa
satrianya Arek Malang. Selesaikan masalah dengan elegant. Football for
friendship, not for war (sepak bola untuk persahabatan bukan alat
perang). Ini menunjukkan bawa Arema itu dicintai oleh Aremania dari berbagai golongan masyarakat bola di Malang, baik yang biasa2 saja atau yang sangat fanatik.
Yang
harus dihindari adalah memaksakan kehendak, memprovokasi, menekan
bahkan meneror perbedaan pendapat dulur dewe Arek Malang (baik manajemen
kepada Aremania maupun sebagian Aremania
kepada manajemen) yang berbeda pendapat (baik yang pro perubahan maupun
yang kontra). Apabila hal ini dilakukan maka sejatinya yang melakukan
teror atau provokasi, penekanan terhadap kelompok minoritas,
mempengaruhi, memaksakan kehendaknya bukan karena panggilan jiwa. Tipe
orang seperti itu sama saja dengan "mengencingi jiwa Arema itu sendiri".
Arema
itu bisa besar karena satu jiwa, karena kebersamaan, bukan dengan
memaksakan kehendaknya satu dengan yang lain harus sejajar (equlity).
Semangat "Football for love, not violence (sepakbola untuk saling
mengasihi bukan merusak)". Cita-cita luhur sepakbola itu sendiri ketika
saya bertemu dengan sesepuh supporter Liverpool di Anfield, Mr Antonios,
84 tahun menjadi supporter, berpesan kepada para supporter dari
berbagai negara. "Sepakbola bukan untuk alat kekarasan dan perusakan,
namun untuk saling mengasihi, mencintai sesama. Artinya sepakbola untuk
masa depan anak cucu".
Jadikanlah sepakbola sebagai tempat para
keluarga memberikan ajaran budaya tentang menghormati lawan (respect
opponent), menghormati aturan (respect the game), dan menghormati
perbedaan (respect diversity), yang terakhir menghormati lingkunganmu
(respect environment). Satu lagi, sepakbola Arema itu tidak akan bisa dibawa kemana-mana, selain untuk bal-balan, olah raga, budaya dan persaudaraan. Tidak akan mungkin warga Arema (Arek Malang) yang sudah cerdas dan ngerti, dipengaruhi dengan warna untuk memilih partai tertentu.
Percayalah
dengan filosofi "Malang Kucecwara" maka akan menjadi tenang jiwamu.
Selesaikan dengan semangat satu jiwa. Dengan semangat satu jiwa ayas
yakin manajemen dan Aremania baik yang pro dan yang
kontra mampu menyelesaikan masalah ini dengan mengesampingkan
kepentingan pribadi di atas kepentingan Arema. Malu lah, sudah 27 tahun
ribut-ribut podo wong Malang sendiri, diketawain sama adik-adik kita dan
kurang memberi pelajaran yang baik, maka selesaikan dengan duduk
silaturohim cara beradab Arema. Saya tidak kaget hari ini terjadi karena
menjadi Aremania sudah lebih dari 25 tahun, bahkan polemic ini sudah hampir tiap tahun terjadi dan akan menjadikan Aremania menjadi lebih kokok dan kuat.
Aremania
itu ibaratnya seperti per, apabila ditekan dengan masalah akan
membumbung tinggi prestasi dan kreativitasnya. Semua masalah apa pun,
besarnya perbedaan, kalau sama-sama punya semangat satu jiwa bisa duduk
bareng bersilaturohim, salaman mubeng dan menyelesaikan dengan baik.
Yang
terkahir, pepatah Jawa "lek lungguh sing jejeg" kalau sudah jadi juara
pra-musim jangan sombong atau tinggi hati, karena orang tinggi hati akan
terlena dan gampang digoncang masalah. Kita baru saja memanaskan Malang
dengan euforia, belum ada satu bulan harusnya suasana euforia ini bisa
dipakai untuk menginstropeksi diri makna salam satu jiwa.
ConversionConversion EmoticonEmoticon