Samsul Arif menggunakan jersey baru (Foto: Abi Yazid)
Sebagai
penggemar kain laknat alias jersey. Saya selalu berhati-hati memberikan
komentar soal warna jersey yang identik dengan partai politik tertentu
yang ada di Indonesia. Toh, dengan terbatasnya warna yang ada di dunia
ini yaitu cuma RGB [Red Green Blue] dan modifikasinya, menjadi lucu jika
mengaitkan warna politik itu ke jubah pemain.
Pendapat saya ini memang klop dengan Arema yang sejak musim kemarin berkali-kali menolak memainkan warna politik di seragam kebesaran mereka. Tuduhan warna kuning sebagai pemanis di jubah biru Arema sebagai titipan politik cukup meragukan mengingat di musim 2007 dan 2008 Arema juga menggunakan warna kuning sebagai pemanis jersey. Jadi anggapan itu adalah tidak selalu tepat.
"Disain jersey musim 2015 ini adalah murni karena pertimbangan bisnis," kata Sudarmaji.
Pendapat saya ini memang klop dengan Arema yang sejak musim kemarin berkali-kali menolak memainkan warna politik di seragam kebesaran mereka. Tuduhan warna kuning sebagai pemanis di jubah biru Arema sebagai titipan politik cukup meragukan mengingat di musim 2007 dan 2008 Arema juga menggunakan warna kuning sebagai pemanis jersey. Jadi anggapan itu adalah tidak selalu tepat.
"Disain jersey musim 2015 ini adalah murni karena pertimbangan bisnis," kata Sudarmaji.
Sponsor Titip Warna Ke Arema?
Dunia
sepakbola tidak terlepas dari bisnis. Dalam urusannya untuk menghidupi
klub tiga hal yang digenjot oleh sebuah klub adalah sponsor, jersey, dan
merchandise. Peranan sponsor ini menjadi sangat vital. Bahkan terkadang
banyak klub di dunia tidak bisa menghadirkan banyak penonton di Stadion
tetapi masih tetap eksis dan hidup karena ditopang oleh sponsor besar.
Tidak heran, alasan utama Arema untuk melakukan inovasi warna terkait di jersey adalah karena sisi bisnis.
Well dari sisi sponsor, dalam launching kemarin. Ada lima sponsor yang terpasang disana, di bagian dada dan perut ada Anker Sports dan Ijen Suites, sementara di bagian dada terpasang Guna Bangun dan IM3. Masih belum cukup, karena ada Lupromax Oil di bagian punggung.
Kembali ke masalah jersey, banyak Aremania yang mempertanyakan disain jersey yang membagi rata warna biru dan kuning untuk home. Sudarmaji menjelaskan jika disain itu adalah menyesuaikan kepentingan bisnis Arema. Entah kebetulan atau tidak, bisa jadi salah satu yang diungkap dari disain itu adalah miripnya warna yang digunakan oleh Lupromax oil dan IM3.
Well dari sisi sponsor, dalam launching kemarin. Ada lima sponsor yang terpasang disana, di bagian dada dan perut ada Anker Sports dan Ijen Suites, sementara di bagian dada terpasang Guna Bangun dan IM3. Masih belum cukup, karena ada Lupromax Oil di bagian punggung.
Kembali ke masalah jersey, banyak Aremania yang mempertanyakan disain jersey yang membagi rata warna biru dan kuning untuk home. Sudarmaji menjelaskan jika disain itu adalah menyesuaikan kepentingan bisnis Arema. Entah kebetulan atau tidak, bisa jadi salah satu yang diungkap dari disain itu adalah miripnya warna yang digunakan oleh Lupromax oil dan IM3.
Lupromax Oil, perusahaan oli kelas dunia yang biasa menjadi sponsor di event besar untuk tahun kedua kembali menjadi sponsor Arema. Sementara IM3, ini adalah tahun ketiga bagi produk telekomunikasi itu untuk berpartner dengan Arema. Bisa jadi, warna kuning yang dominan di produk itu ikut disematkan ke jersey Arema sebagai langkah penghormatan Arema terhadap perusahaan yang telah menggelontorkan dana kepada klub.
Namun, warna kuning dan biru di Arema merupakan pesanan Lupromax bisa jadi juga tertolak karena jauh sebelum Arema dan Lupromax bekerjasama, Arema
sudah pernah menggunakan warna kuning. Lagian, nama Lupromax diletakkan
di bagian belakang sehingga bisa jadi harga yang ditawarkan lebih murah
dibandingkan yang depan. Jadi kuning ini pesanan sponsor darimana?.
Anker Sports, perusahaan foundation dari Anker bir tahun ini menjadi sponsor Arema lagi. Dipastikan nilai kontrak yang sponsor tersebut ke Arema naik, karena beberapa waktu lalu, manajer Arema Cronus Ruddy Widodo menyatakan jika kalau Anker ingin menjadi sponsor lagi, maka Anker harus menaikkan nilai kontrak. Hal ini terjadi karena disaat yang sama, Arema juga mendapatkan tawaran dari perusahaan lain yang nilainya lebih banyak dibandingkan Anker tahun lalu.
Anker Sports, perusahaan foundation dari Anker bir tahun ini menjadi sponsor Arema lagi. Dipastikan nilai kontrak yang sponsor tersebut ke Arema naik, karena beberapa waktu lalu, manajer Arema Cronus Ruddy Widodo menyatakan jika kalau Anker ingin menjadi sponsor lagi, maka Anker harus menaikkan nilai kontrak. Hal ini terjadi karena disaat yang sama, Arema juga mendapatkan tawaran dari perusahaan lain yang nilainya lebih banyak dibandingkan Anker tahun lalu.
Asumsinya (sekali lagi saya menulis asumsi), naiknya nilai kontrak berimbas kepada brand Anker yang kudu dikenalkan. Pengenalan itu dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada Anker untuk memasukkan brandnya melalui warna jersey kedua Arema yaitu orange dan merah.
Kalau Di Eropa
Saat ini bisa dikatakan tidak mungkin bagi sebuah klub (kecuali dengan alasan tertentu) menolak gelontoran finansial dari sponsor mereka. Apalagi, dengan kondisi klub yang mempunyai pengeluaran besar dalam masalah gaji pemain. Jika tiket penonton dipandang tidak lagi memenuhi, maka pundi rupiah dari sponsor tidak salah untuk diterima.
Jika di Arema hanya menitipkan warna brand di jersey kedua ataupun jersey pertama tanpa mengubah warna dasar jersey home yang berwarna biru. Lain dengan eropa, salah contohnya adalah di Liga Inggris.
Di musim 2012/13,
Southampton mengubah warna strip di jersey mereka menjadi warna merah.
Alasannya, warna merah adalah inovasi dari petinggi klub dengan harapan
agar fans punya perbedaan jersey yang selama ini hanya strip saja.
Disain warna merah itu hanya dipakai selama dua tahun karena di musim
ini mereka menggantinya menjadi strips kembali.
Berbeda Soton, Cardiff City melakukan perubahan warna dari biru ke merah ketika pemilik baru mereka seorang warga Malaysia menggelontorkan sejumlah dana, sementara warna biru menjadi jersey kedua. Selain warna kostum, logo Cardiff dari burung biru diubah menjadi naga merah.
Berbeda Soton, Cardiff City melakukan perubahan warna dari biru ke merah ketika pemilik baru mereka seorang warga Malaysia menggelontorkan sejumlah dana, sementara warna biru menjadi jersey kedua. Selain warna kostum, logo Cardiff dari burung biru diubah menjadi naga merah.
Vincent Tan, sang pemilik beralasan jika warna merah akan meningkatkan fans Cardiff di Asia. Meski warna biru tetap digunakan sebagai jersey kedua. Fans Cardiff sudah kadung marah ke pemilik klub dengan melakukan demo, tidak hanya itu mereka juga datang ke Stadion tetap menggunakan jersey biru.
Dikutip dari Bolatotal, selain dua klub di atas, di musim-musim sebelumnya banyak klub yang pernah berganti warna kostum utama. Seperti Paris Saint Germain, yang warna aslinya adalah merah berubah menjadi biru dengan strip merah di bagian dada. PSG juga pernah menggunakan warna biru dengan pinstripe merah-putih.
Selain itu, klub yang cukup terkenal berganti-ganti corak adalah Bayern Munchen. Raksasa Jerman ini pernah memakai warna merah polos, merah strip putih horizontal, merah strip putih vertikal, dan merah-biru.
Di Italia juga ada beberapa klub yang mengganti motif warnanya, seperti Juventus yang sebelumnya menggunakan warna merah mudah, Inter Milan yang menggunakan warna putih dengan salib merah, atau Parma, yang pernah merubah wana putih dengan salib biru tua menjadi biru-kuning di awal 90an.
Pada akhirnya, perubahan warna jersey memang selalu ada, baik di dunia lain ataupun di Indonesia. Meski sekali lagi, rasa sakit diejek suporter sebelah memang harus dialami oleh Aremania. Sebab saat sponsor di kubu lawan berkompromi hingga mengubah warna merknya, maka sponsor di Arema berkepentingan di jersey. Tetapi, titipan warna brand dari sponsor tertentu memang pernah ada di dunia, kebanyakan jersey away yang dititipi.
ConversionConversion EmoticonEmoticon