Perdamaian Suporter Bukan Sekedar Mimpi





Mungkin setiap orang sempat berfikir untuk keluar dari dunia supporter, karena menyangkut keamanan ketika sedang berada di kota rival. Tapi mungkin karena sudah terlanjur masuk ke dalam dunia supporter, pikiran itu harus dikesampingkan. 

Memang dunia suporter itu keras, apalagi Indonesia terkenal dengan kefanatikannya di dalam maupun di luar stadion. Tapi ada hal berharga yang bisa kita dapatkan, dari sinilah kita menemukan sesuatu yang mungkin tidak bisa kita tebak. Mungkin mengenal satu orang itu sudah biasa, tapi mengenal banyak orang itu sesuatu yang sangat luar biasa. Tak hanya di dalam tribun, begitupun di luar dari pertandingan sepak bola. 

Dari saling tegur saling sapa akhirnya bisa akrab bisa kenal dekat, bahkan tak sedikit pula yang bisa menemukan jodohnya, entah dari tim yang didukung, daerah tempat tinggal atau rantauan atau bahkan dari rival sendiri.

Tak hanya itu, kita juga bisa menemukan pengalaman baru dalam cara bergaul, saling bersilaturahmi, bercengkrama. Dari situ kita bisa saling mengingatkan, saling mengisi satu sama lain, saling bahu-mebahu seakan membentuk keluarga kedua di luar rumah.

Mungkin sangat disayangkan jika kefanatikan yang militan itu disalahgunakan menjadi suatu amarah, gengsi dan keegoisan pribadi maupun kelompok. Pelampiasan sampai menjadi dendam yang secara tidak sengaja tertanam di hati kita masing-masing. Kalau ada kemauan dan pemikiran seperti itu dikesampingkan atau mungkin dihapuskan dan menggerakkan hati kita untuk berjabat tangan satu sama lain, tak akan ada pertumpahan darah yang akan menanamkan dendam di dalam hati kita. 

Sepak bola adalah ajang untuk bersaing, bukan dengan nafsu, keegoisan dan mementingkan dirinya atau kelompoknya sendiri, tapi dengan mottonya yaitu "FAIR PLAY". Tak hanya pemainnya, tapi juga harus dari suporternya bisa menjunjung tinggi FAIR PLAY. 

 Persaingan dalam dunia suporter wajar, 90 menit di atas tribun kita bisa bernyanyi, melakukan suatu kreasi untuk menjatuhkan mental lawan, untuk mendukung penuh tim kebanggaan kita, tapi sesudah 90 menit saat keluar dari stadion, FAIR PLAY supporter harus bisa ditegakkan. Yang biasanya suka lempar batu, sekarang bisa lempar tangan untuk bersalaman, yang biasa membawa senjata tajam, sekarang bisa membawa sesuatu yang lebih bermanfaat, yang biasa nyanyi rasis, sekarang bisa nyanyi untuk sekedar tegur sapa untuk tuan rumah atau tamunya, dan yang biasa memprovokasikan teman-teman atau kelompoknya, sekarang bisa memprovokasikan untuk mengajak bersilaturahmi, sekedar menebarkan senyum dan berbincang-bincang, saling menghargai, menghormati, dan berbagi kasih sayang dalam kebersamaan antar kawan maupun lawan.

Bukankah pemandangan seperti itu yang membuat lebih harmonis, lebih kuat persaudaraannya, lebih nyaman, lebih aman, mengingat di seluruh Indonesia dalam pertandingan sepak bola, tidak hanya laki-laki, banyak juga wanita dan tidak hanya anak muda, bahkan orang tua dan anak kecilpun tak jarang kita jumpai di atas tribun.

Mulailah dari diri kita sendiri, buang jauh-jauh rasa dendam dan amarah, karena berjabat tangan lebih indah daripada saling bertengkar. Tak inginkah melihat anak cucu kita kelak nanti bisa bernyanyi dan beratraksi di atas tribun dengan aman dan nyaman? Tak usah menunggu untuk melakukan perbuatan baik, lakukanlah walau itu sulit untuk dilakukan. Dengan niat yang besar dan kesungguhan hati kita, insya Allah perdamaian bukan hanya sekedar mimpi.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment